Cari Blog Ini

Jumat, 13 Oktober 2017

PERSIAPAN DASAR MEMBUAT MAJALAH SEKOLAH



Sarana Prasarana 
yang harus dipersiapkan.
( sebelum sekolah membuat majalah sekolah )


           Untuk membuat sebuah media internal sekolah ada dan terus eksis, sarana prasarana apa yang harus disiapkan oleh sebuah sekolah apa sih ? Apakah membutuhkan biaya besar dan akhirnya membebani anggaran belanja sekolah ?
Sebenarnya, untuk sarana penunjang, pihak sekolah tidak harus membebani anggaran sekolahan, karena sarana prasarana itu sendiri sebenarnya sudah ada, hanya belum dimaksimalkan oleh sekolah. Apa saja peralatan itu ?

1.            Satu unit komputer dan printer
Ini menjadi salah satu piranti wajib yang harus ada, dan biasanya di semua sekolah alat itu sudah ada. Di sebagian sekolah alat itu maksimal digunakan untuk mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Tapi di sekolah lain, alat itu hanya teronggok dipojok ditutupi oleh debu yang kian lama kian menebal, karena pihak sekolah sendiri kurang mampu mendayagunakan untuk kepentingan proses KBM.
            Untuk bisa mendukung proses kreatif pembuatan sebuah media, komputer yang ada di sekolah harus mempunyai hard disk berkapasitas besar, misalnya 300 atau 500 gega. Karena, untuk pembuatan sebuah majalah misalnya, akan ada banyak foto dan grafis yang ukurannya besar, sehingga hard disk komputer yang kapasitasnya kecil hanya akan membuat kinerjanya lelet dan lama. Untuk ram nya juga sangat diharapkan besar, misalnya 1 gega atau 2 gega. Hal itu dikandung maksud, agar proses tranfers dari tulisan ke corel draws atau gambar/ foto dari photo shop ke corel bisa berlangsung cepat. Dan yang tidak kalah pentinya, intel pentium yang ada di dalam komputer harus minimal pentium 4 atau atau mungkin cor 2 duo dan sejenisnya. Hal itu untuk mendukung cepatnya proses pengerjaan lay out dan desain grafis majalah.
            Namun, komputer itu sendiri hanya alat. Dan manusia adalah yang menjadi tuan atasnya. Sehingga pada taraf minimal speknya, komputer itu tetap akan bisa mendukung kinerja anak didik untuk membuat sebuah media internal sekolah. Hanya untuk proses pengerjaannya agak dibutuhkan kesabaran. Itu saja.
            Eh hampir lupa, untuk programnya, komputer itu juga harus dilengkapi dengan program corel draws atau in design untuk proses lay outnya, dan photo shop untuk proses edit foto dan gambar. Program-program itu sendiri bisa di unduh gratis di internet, sehingga untuk pengadaan program itu, sekolah tidak usah mengeluarkan dana. 

2.            Tustel digital / HP berkamera
Setiap sekolahan dipastikan sudah mempunyai peralatan ini, untuk mendokumentasikan banyak kegiatan sekolah. Anak didik juga dipastikan banyak yang punya. Semuanya juga dipastikan banyak yang bisa mengoperasikannya. Tidak ada masalah untuk peralatan yang satu ini. Hanya yang penting kemudian adalah, bagaimana melatih memakai  tustel atau kamera sesuai dengan kaidah jurnalistik. Memotret untuk dokumentasi tentu saja lain dengan memotret untuk sebuah media. Untuk sebuah media, pemegang kamera harus benar-benar serius melatih kepekaannya, melatih instingnya, sehingga gambar yang dihasilnya benar-benar bisa bicara. Gambar / foto yang dihasilkan mampu bercerita bahkan dengan detail, apa yang sedang terjadi. (pembelajaran tentang teknik fotografi, akan dibahas pada buku tip’s n trik  fotografi jurnalistik )

          Kenapa harus kamera digital ? Alasannya, selain gampang dalam pengoperasiannya, juga murah meriah. Karena semuanya masih dalam proses belajar, maka trial dan error, mencoba dan mencoba dengan langsung praktek di lapangan, itulah yang akan membuat anak didik mampu berkembang dengan sendirinya. Anak didik akan terlatih sisi seni dan kreatifitasnya, sehingga untuk sebuah pergelaran musik, dia tidak hanya memotret dari depan dengan menonjolkan profil artisnya. Tapi juga bagaimana dia mengambil angle atau sudut pandang  yang artistik, untuk mendukung penampilan sang artis.
Dan karena harus banyak berlatih, maka dibutuhkan banyak jepretan yang harus diambil. Kalau harus menggunakan kamera kuno dengan film, berapa dana yang harus disediakan untuk anak didik berlatih ? Kamera digital dengan memory card 2 gega misalnya, sudah bisa dipakai untuk memotret ratusan kali. Kalau sudah penuh, tinggal dihapus, mudah dan murah meriah. Kamera digital adalah jawaban yang sesungguhnya atas kebutuhan banyak jurnalis akan sebuah alat yang mendukung kinerja profesionalnya.
Dengan kamera digital, untuk proses lay out dan editing juga tidak perlu harus mengeluarkan dana. Cukup colokkan kabel kamera ke komputer dan semua foto hasil hintung jepretan anak didik di lapangan, bisa segera diproses dalam lay out yang sesuai dengan visi misi majalah.  Mudah, praktis dan murah. Itulah kamera digital.

3.            Tape perekam / HP berkamera
Sebenarnya alat ini tidak begitu pokok, harus ada untuk sebuah kegiatan jurnalistik. Bahkan untuk wartawan pemula, amat sangat diharapkan untuk tidak memakai alat perekam. Agar yang bersangkutan bisa makin mengasah kemampuan otaknya untuk bekerja cepat mencatat semua jawaban nara sumber saat harus menjawab pertanyaannya. Dengan tidak menggunakan alat perekam, wartawan akan benar-benar dituntut kecerdasan dan kecepatan berpikirnya, sehingga diantara jawaban yang dilontarkan nara sumber ada pertanyaan baru yang segera disusun oleh otaknya untuk segera ditanyakan. Saat anak didik sudah terbiasa berperilaku demikian, maka dalam dirinya akan terbentuk sikap yang selalu siap dalam menghadpai  situasi dan kondisi yang bagaimanapun.
Anak didik juga akan berlatih untuk dengan cepat mengambil intisari, atau hal-hal yang penting dari jawaban sang nara sumber untuk dicatatnya. Setelah itu, di depan komputer dia harus semaksimal mungkin memeras otaknya, sehingga akan ada berita  yang panjang dan lengkap berdasar ringkasan data yang ditulisnya itu. 
  
           Tapi, alat perekam itu pada beberapa kasus, ternyata harus ada dan harus digunakan, misalnya  saat harus menghadapi narasumber yang khusus. Hal-hal khusus itu antaralain :Saat harus menghadapi narasumber dengan kredibilitas tinggi, sehingga kesalahan  salah kutip, salah tulis sekecil apapun akan berakibat buruk bagi keberadaan media kita. Narasumber itu misalnya, pejabar birokrat seperti walikota, gubernur, Kapolres, Kapolda dan lainnya. Atau tokoh ekonomi dengan banyak istilah ekonomi yang membingungkan.  Serta tokoh politik atau anggota DPR/DPRD, yang terkadang plin plan mengelak telah mengatakan ini itu, menuduh kita memilintir jawaban dan lainnya. Dengan adanya alat perekam, upaya mereka untuk berkilah saat jawabannya menuai kontroversi, bisa terbantahkan, dan wartawan lepas dari tuduhan yang macem-macem.

4. ID Card
            ID Card atau  tanda pengenal  bahwa kita adalah pekerja pers, menjadi hal yang amat penting bagi seorang wartawan. Dengan bekal kartu pers yang resmi, kita akan terbedakan dengan wartawan bodrek, wartawan tanpa surat kabar, dan lain oknum yang memanfaatkan profesi jurnalis untuk kepentingan pribadinya.
            Meski hanya media internal milik sebuah sekolah,  anak didik yang berolah kreatif di dalamnya harus dibekali kartu pers itu. Itu dimaksudkan, agar yang bersangkutan dimudahkan saat harus terjun ke lapangan melakukan kegiatan jurnalistik.  Hati-hati saat harus mengeluarkan kartu. Yang tidak berkepentingan dengan kegiatan jusnalistik tidak usah diberi kartu, agar tidak muncul penyalahgunaan. Karena, berbekal kartu itu, banyak kemudahan yang bisa diperoleh oleh pemegangnya.

5. Ruangan khusus untuk kantor
            Saat sebuah sekolah sudah berketetapan hati untuk membuat sebuah media internal sekolah, maka sang Kepsek harus mencarikan sebuah ruangan khusus, di mana tidak akan ada banyak anak didik yang lain atau bahkan guru yang tidak berkentingan lalu lalang atau bebas keluar masuk di dalamnya. Kalau ruangan sekolah terbatas, ruang kerja untuk redaksi harus dicarikan ruangan yang benar-benar bebas dari lalu lalang banyak orang. Akses menuju dan dari ruangan itu harus terbatas untuk mereka yang berkepentingan. Kenapa harus begitu ?
            Ruangan kerja sebuah redaksi media pasti akan ada banyak kertas, dokumen, foto, gambar dan lainnya. Semuanya itu penting, bahkan untuk sesobek kertas kecil berisi nomer hp seorang calon nara sumber. Bayangkan, kalau di sebuah meja redaksi tergeletak banyak foto artis dan notes hasil wawancara, sementara ruangan di mana meja itu berada bebas dimasuki dan bahkan untuk lalu lalang banyak anak dan guru. Apakah akan aman banyak foto dan kertas-kertas itu ? Jangan-jangan foto – foto itu lenyap disambar tangan-tangan iseng anak didik yang ingin tahu.
            Untuk sebuah deadline, para redaksi membutuhkan ruangan yang bebas dari gangguan orang lain yang tidak berkepentingan, agar dia bisa berkonsentrasi untuk mengedit dan menulis. Pihak sekolah  tidak harus menyedian ruangan yang mewah, cukup ruangan yang nyaman, dengan kipas angin untuk menghilangkan gerah dan panas, serta dispenser untuk mereka menghilangkan haus yang terkadang begitu saja datang saat beban otak sudah demikian padat.

6. Alat Transportasi
            Sarana ini sebenarnya tidak begitu penting, karana sang wartawan pelajar biasanya mempunyai sepeda montor sendiri-sendiri. Tapi kalau sekolahan mempunyai kendaraan sekolah, hal itu akan lebih memudahkan mereka untuk datang tepat waktu ke nara sumber.

            Begitulah sarana prasarana yang paling penting, yang harus disediakan oleh sekolah, saat sekolah menginginkan ada sebuah media internal di sekolahnya. Spesifikasi atas sarana prasarana itu, bisa macem-macem tergantung dari kemampuan pihak sekolah. Hanya  yang harus dicatat disini, bukan alatnya tapi SDM nya lah yang penting. Dalam tataran yang minimal, bahkan dengan menggunakan komputer rental, dan kamera pinjaman dari orang tua murid, sebuah media internal sekolah bisa saja diterbitkan. Semuanya tergantung pada pengelola dan pelaksana di lapangan. Kalau mereka memang mempunyai motivasi yang tinggi dan didukung oleh semua yang ada di sekolah, maka media internal itu pasti bisa diterbitkan.

                                                            ****





Tidak ada komentar:

Posting Komentar