Sarana
Prasarana
yang harus dipersiapkan.
( sebelum sekolah membuat majalah sekolah )
Untuk membuat sebuah media internal sekolah ada dan terus
eksis, sarana prasarana apa yang harus disiapkan oleh sebuah sekolah apa sih ?
Apakah membutuhkan biaya besar dan akhirnya membebani anggaran belanja sekolah
?
Sebenarnya, untuk sarana penunjang, pihak sekolah tidak
harus membebani anggaran sekolahan, karena sarana prasarana itu sendiri
sebenarnya sudah ada, hanya belum dimaksimalkan oleh sekolah. Apa saja
peralatan itu ?
1.
Satu unit komputer dan
printer
Ini menjadi salah satu piranti wajib yang harus ada, dan
biasanya di semua sekolah alat itu sudah ada. Di sebagian sekolah alat itu
maksimal digunakan untuk mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Tapi di
sekolah lain, alat itu hanya teronggok dipojok ditutupi oleh debu yang kian
lama kian menebal, karena pihak sekolah sendiri kurang mampu mendayagunakan
untuk kepentingan proses KBM.
Untuk
bisa mendukung proses kreatif pembuatan sebuah media, komputer yang ada di
sekolah harus mempunyai hard disk berkapasitas besar, misalnya 300 atau 500
gega. Karena, untuk pembuatan sebuah majalah misalnya, akan ada banyak foto dan
grafis yang ukurannya besar, sehingga hard disk komputer yang kapasitasnya
kecil hanya akan membuat kinerjanya lelet dan lama. Untuk ram nya juga sangat
diharapkan besar, misalnya 1 gega atau 2 gega. Hal itu dikandung maksud, agar
proses tranfers dari tulisan ke corel draws atau gambar/ foto dari photo shop
ke corel bisa berlangsung cepat. Dan yang tidak kalah pentinya, intel pentium
yang ada di dalam komputer harus minimal pentium 4 atau atau mungkin cor 2 duo
dan sejenisnya. Hal itu untuk mendukung cepatnya proses pengerjaan lay out dan
desain grafis majalah.
Namun,
komputer itu sendiri hanya alat. Dan manusia adalah yang menjadi tuan atasnya.
Sehingga pada taraf minimal speknya, komputer itu tetap akan bisa mendukung
kinerja anak didik untuk membuat sebuah media internal sekolah. Hanya untuk
proses pengerjaannya agak dibutuhkan kesabaran. Itu saja.
Eh
hampir lupa, untuk programnya, komputer itu juga harus dilengkapi dengan
program corel draws atau in design untuk proses lay outnya, dan photo shop
untuk proses edit foto dan gambar. Program-program itu sendiri bisa di unduh
gratis di internet, sehingga untuk pengadaan program itu, sekolah tidak usah
mengeluarkan dana.
2.
Tustel digital / HP berkamera
Setiap sekolahan dipastikan sudah mempunyai peralatan
ini, untuk mendokumentasikan banyak kegiatan sekolah. Anak didik juga
dipastikan banyak yang punya. Semuanya juga dipastikan banyak yang bisa
mengoperasikannya. Tidak ada masalah untuk peralatan yang satu ini. Hanya yang
penting kemudian adalah, bagaimana melatih memakai tustel atau kamera sesuai dengan kaidah
jurnalistik. Memotret untuk dokumentasi tentu saja lain dengan memotret untuk
sebuah media. Untuk sebuah media, pemegang kamera harus benar-benar serius
melatih kepekaannya, melatih instingnya, sehingga gambar yang dihasilnya
benar-benar bisa bicara. Gambar / foto yang dihasilkan mampu bercerita bahkan
dengan detail, apa yang sedang terjadi. (pembelajaran tentang teknik fotografi,
akan dibahas pada buku tip’s n trik fotografi jurnalistik )
Kenapa harus kamera digital ? Alasannya, selain gampang
dalam pengoperasiannya, juga murah meriah. Karena semuanya masih dalam proses
belajar, maka trial dan error, mencoba
dan mencoba dengan langsung praktek di lapangan, itulah yang akan membuat anak
didik mampu berkembang dengan sendirinya. Anak didik akan terlatih sisi seni
dan kreatifitasnya, sehingga untuk sebuah pergelaran musik, dia tidak hanya
memotret dari depan dengan menonjolkan profil artisnya. Tapi juga bagaimana dia
mengambil angle atau sudut pandang yang
artistik, untuk mendukung penampilan sang artis.
Dan karena harus banyak berlatih, maka dibutuhkan banyak
jepretan yang harus diambil. Kalau harus menggunakan kamera kuno dengan film,
berapa dana yang harus disediakan untuk anak didik berlatih ? Kamera digital
dengan memory card 2 gega misalnya, sudah bisa dipakai untuk memotret ratusan
kali. Kalau sudah penuh, tinggal dihapus, mudah dan murah meriah. Kamera
digital adalah jawaban yang sesungguhnya atas kebutuhan banyak jurnalis akan
sebuah alat yang mendukung kinerja profesionalnya.
Dengan kamera digital, untuk proses lay out dan editing
juga tidak perlu harus mengeluarkan dana. Cukup colokkan kabel kamera ke
komputer dan semua foto hasil hintung jepretan anak didik di lapangan, bisa
segera diproses dalam lay out yang sesuai dengan visi misi majalah. Mudah, praktis dan murah. Itulah kamera
digital.
3.
Tape perekam / HP berkamera
Sebenarnya alat ini tidak begitu pokok, harus ada untuk
sebuah kegiatan jurnalistik. Bahkan untuk wartawan
pemula, amat sangat diharapkan untuk tidak memakai alat perekam. Agar yang
bersangkutan bisa makin mengasah kemampuan otaknya untuk bekerja cepat mencatat
semua jawaban nara sumber saat harus menjawab pertanyaannya. Dengan tidak
menggunakan alat perekam, wartawan akan benar-benar dituntut kecerdasan dan
kecepatan berpikirnya, sehingga diantara jawaban yang dilontarkan nara sumber
ada pertanyaan baru yang segera disusun oleh otaknya untuk segera ditanyakan.
Saat anak didik sudah terbiasa berperilaku demikian, maka dalam dirinya akan
terbentuk sikap yang selalu siap dalam menghadpai situasi dan kondisi yang bagaimanapun.
Anak didik juga akan berlatih untuk dengan cepat
mengambil intisari, atau hal-hal yang penting dari jawaban sang nara sumber
untuk dicatatnya. Setelah itu, di depan komputer dia harus semaksimal mungkin
memeras otaknya, sehingga akan ada berita
yang panjang dan lengkap berdasar ringkasan data yang ditulisnya itu.
Tapi, alat perekam itu pada beberapa kasus, ternyata
harus ada dan harus digunakan, misalnya
saat harus menghadapi narasumber yang khusus. Hal-hal khusus itu
antaralain :Saat harus menghadapi narasumber dengan kredibilitas
tinggi, sehingga kesalahan salah kutip,
salah tulis sekecil apapun akan berakibat buruk bagi keberadaan media kita.
Narasumber itu misalnya, pejabar birokrat seperti walikota, gubernur, Kapolres,
Kapolda dan lainnya. Atau tokoh ekonomi dengan banyak istilah ekonomi yang
membingungkan. Serta tokoh politik atau
anggota DPR/DPRD, yang terkadang plin
plan mengelak telah mengatakan ini itu, menuduh kita memilintir jawaban dan
lainnya. Dengan adanya alat perekam, upaya mereka untuk berkilah saat
jawabannya menuai kontroversi, bisa terbantahkan, dan wartawan lepas dari
tuduhan yang macem-macem.
4. ID Card
ID Card
atau tanda pengenal bahwa kita adalah pekerja pers, menjadi hal
yang amat penting bagi seorang wartawan. Dengan bekal kartu pers yang resmi,
kita akan terbedakan dengan wartawan bodrek, wartawan tanpa surat kabar, dan
lain oknum yang memanfaatkan profesi jurnalis untuk kepentingan pribadinya.
Meski
hanya media internal milik sebuah sekolah,
anak didik yang berolah kreatif di dalamnya harus dibekali kartu pers
itu. Itu dimaksudkan, agar yang bersangkutan dimudahkan saat harus terjun ke
lapangan melakukan kegiatan jurnalistik.
Hati-hati saat harus mengeluarkan kartu. Yang tidak berkepentingan
dengan kegiatan jusnalistik tidak usah diberi kartu, agar tidak muncul
penyalahgunaan. Karena, berbekal kartu itu, banyak kemudahan yang bisa
diperoleh oleh pemegangnya.
5. Ruangan khusus untuk kantor
Saat
sebuah sekolah sudah berketetapan hati untuk membuat sebuah media internal
sekolah, maka sang Kepsek harus mencarikan sebuah ruangan khusus, di mana tidak
akan ada banyak anak didik yang lain atau bahkan guru yang tidak berkentingan
lalu lalang atau bebas keluar masuk di dalamnya. Kalau ruangan sekolah terbatas, ruang kerja untuk redaksi harus dicarikan
ruangan yang benar-benar bebas dari lalu lalang banyak orang. Akses menuju dan
dari ruangan itu harus terbatas untuk mereka yang berkepentingan. Kenapa harus
begitu ?
Ruangan
kerja sebuah redaksi media pasti akan ada banyak kertas, dokumen, foto, gambar
dan lainnya. Semuanya itu penting, bahkan untuk sesobek kertas kecil berisi
nomer hp seorang calon nara sumber. Bayangkan, kalau di sebuah meja redaksi
tergeletak banyak foto artis dan notes hasil wawancara, sementara ruangan di
mana meja itu berada bebas dimasuki dan bahkan untuk lalu lalang banyak anak
dan guru. Apakah akan aman banyak foto dan kertas-kertas itu ? Jangan-jangan
foto – foto itu lenyap disambar tangan-tangan iseng anak didik yang ingin tahu.
Untuk
sebuah deadline, para redaksi
membutuhkan ruangan yang bebas dari gangguan orang lain yang tidak
berkepentingan, agar dia bisa berkonsentrasi untuk mengedit dan menulis. Pihak
sekolah tidak harus menyedian ruangan
yang mewah, cukup ruangan yang nyaman, dengan kipas angin untuk menghilangkan
gerah dan panas, serta dispenser untuk mereka menghilangkan haus yang terkadang
begitu saja datang saat beban otak sudah demikian padat.
6. Alat Transportasi
Sarana
ini sebenarnya tidak begitu penting, karana sang wartawan pelajar biasanya
mempunyai sepeda montor sendiri-sendiri. Tapi kalau sekolahan mempunyai
kendaraan sekolah, hal itu akan lebih memudahkan mereka untuk datang tepat
waktu ke nara sumber.
Begitulah
sarana prasarana yang paling penting, yang harus disediakan oleh sekolah, saat
sekolah menginginkan ada sebuah media internal di sekolahnya. Spesifikasi atas
sarana prasarana itu, bisa macem-macem tergantung dari kemampuan pihak sekolah.
Hanya yang harus dicatat disini, bukan
alatnya tapi SDM nya lah yang penting. Dalam tataran yang minimal, bahkan
dengan menggunakan komputer rental, dan kamera pinjaman dari orang tua murid,
sebuah media internal sekolah bisa saja diterbitkan. Semuanya tergantung pada
pengelola dan pelaksana di lapangan. Kalau mereka memang mempunyai motivasi
yang tinggi dan didukung oleh semua yang ada di sekolah, maka media internal
itu pasti bisa diterbitkan.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar