ESKUL JURNALISTIK ITU KEREN
Apa sih menariknya ikutan ekskul jurnalistik ? Itu mungkin yang pertama
harus dicarikan jawabnya, karena banyak
anak didik yang tidak cukup mempunyai
keberanian, anak yang tidak suka tantangan, menganggap, ekskul jurnalistik itu
terlalu menakutkan. Ekskul jurnalistik itu banyak mengarangnya, padahal
mengarang itu perlu bakat dan sulit.
Juga banyak liputannya. Padahal,
untuk ngomong dan bertanya dengan orang saja di luar lingkungan kesehariannya,
banyak anak didik yang tidak cukup mempunyai keberanian.
Ekskul
jurnalistik itu keren. Anak didik yang ikut ekskul ini keren. Menyandang
tustel, mengalungi kartu pers, dan dipunggungnya ada tas dengan aneka bahan
liputan. Atas tampilan itu, sosok anak didik yang ikut ekskul jurnalistik, dan
melakukan banyak kegiatan liputan lapangan, dipandang lebih, dianggap lebih
tahu dan lebih banyak pengetahuan. Di manapun dia berada, wartawan, meski itu
hanya sekelas wartawan yunior untuk media internal sekolah, dianggap tempat
jujugan atas informasi yang masyarakat lingkungan tidak tahu. Dan itu keren.
Maka, ekskul jurnalistik pasti keren, karena siapapun yang ikut di dalamnya,
dipastikan akan mendapatkan pengalaman, bertemu dengan banyak orang,
mewawancarai banyak narasumber, mulai dari artis hingga pejabat tinggi dan
birokrat serta kaum duafa. Anak didik yang ikut ekskul jurnalistik, adalah
mereka yang punya banyak pengalaman menghadapi banyak orang. Sehingga, atas
dirinya, akan muncul sikap dan sifat baik, sebagaimana sikap dan sifat baiknya
saat harus menghadapi banyak nara sumber dengan aneka watak dan karakter.
Ekskul jurnalistik memang membutuhkan anak
yang berani. Ekskul jurnalistik, membutuhkan anak didik yang gemar bertualang.
Anak didik yang tidak sekedar datang, masuk kelas, duduk mendengarkan
pelajaran, mengikuti ulangan, pulang, tidur, dan besoknya kembali datang ke
sekolah, tapi mau sedikit mewarnai rutinitasnya sebagai pelajar dengan
petualangan. Itulah yang dibutuhkan ekskul jurnalistik. Ekskul jurnalistik
itulah ekskul yang keren.
Ekskul jurnalistik akan membuat anak
didik yang mengikutinya, terus berlatih dan berlatih menulis berita, menulis
artikel, dan juga menulis puisi, cerpen dan lainnya. Anak didik akan dilatih
untuk berhadapan dengan banyak nara sumber yang berbeda karakter dan wataknya.
Anak didik akan terbiasa menghadapi segala molornya waktu ketemuan. Anak didik
akan berhadapan dengan penolakan, bahkan terkadang harus menghadapi pengusiran,
karena sang nara sumber merasa terganggu. Anak didik akan berhadapan dengan banyak
keadaan yang tidak mengenakkan, karena sang narasumber yang akan diwawancarai
berulah. Semuanya itu, akan membuat anak didik terbiasa menghadapi segala
hambatan dan tantangan, untuk kemudian bisa melakukan tindakan darurat demi
mengatasi semuanya itu.
Anak didik, akan disiapkan untuk bertemu dengan siapa
saja, dengan semua karakter dan sifat dasarnya, yang tidak semuanya enak untuk
diajak wawancara. Anak didik akan berlatih bagaimana menghadapi seorang artis
terkenal dengan ego dan sifat keakuannya yang tinggi. Dia juga harus sabar
dalam menghadapi protokoler yang terkadang sangat berbelit dan sangat mengurasa
kesabaran seorang anak.
Ekskul jurnalistik, akan membuat
anak didik sanggup mengatur waktu untuk dirinya sendiri dengan baik dan benar.
Hal itu dikarenakan, untuk membuat janji wawancara dengan nara sumber, waktunya
terkadang ditunda dan atau dimajukan. Banyak juga acara-acara yang harus
diliput bersamaan hari dan waktunya. Yang semuanya harus bisa diliput
semuanaya. Anak didik benar-benar
dipaksa untuk memenej waktunya, sehingga semuanya bisa dicapai dan berjalan dengan baik dan
benar. Dari situ, anak didik dipaksa
untuk memenej waktunya seefisien dan se efektif mungkin, tanpa harus
meninggalkan kewajibannya sebagai pelajar, dengan segala beban yang harus
disandangnya.
Jadi, dengan ekskul jurnalistik anak didik yang ikut di dalamnya, akan
mendapatkan kemampuan untuk :
1.
Dia bisa melatih pola
pikirnya, untuk sigap bergerak mencari solusi atas permasalahannya saat itu
juga. Mampu dengan segera dan berani melakukan langkah darurat, apa yang
dihadapinya. Yang pada akhirnya akan membuat anak didik mandiri, dalam
segalanya. Sebagai pelajar, dia akan bisa menetapkan skala prioritas yang akan
dicapainya, tanpa harus meninggalkan kesehariannya untuk bermain dan
bersosialisasi dengan lingkungannya.
2.
Dia akan makin mampu
menuangkan pikiran, ide dan uneg-unegnya, dalam sebuah tulisan yang runtut,
enak dibaca dan mudah dipahami oleh semua orang. Dan itu artinya, saat harus
menghadapi soal-soal yang membutuhkan penalaran untuk jawabnya, dia akan mampu
membuat jawaban yang pas, tepat dan
tidak berbelit-belit.
3.
Dia akan mampu memenej
waktunya dengan baik dan efisien. Tidak akan ada lagi waktu yang terbuang
dengan sia-sia. Dan itu artinya, tidak akan ada tindakan dan atau perbuatan
yang tidak benar, karena semua waktunya sudah tersita untuk banyak acara dan
rencana.
4. Dia bisa bertemu dengan siapa
saja, di mana saja dan kapan saja. Dia bisa mendapatkan pengalaman yang tidak
terlupakan karena bertemu dengan artis idola. Dia juga bisa bersua dan bertatap
muka dengan banyak pejabat birokrat dari berbagai posisi. Pada gilirannya, dia
juga harus bertemu dengan banyak kaum duafa, di mana dia bisa berlatih
mengembangkan simpati dan empatinya.
Perasaan
dan budi pekerti anak akan dilatih di sini, sehingga dia bisa menjadi anak yang
lembut hati dan berkarakter baik, karena seringnya dia berhadapan dengan
kenyataan betapa ternyata masih banyak orang yang kehidupannya nestapa dan
papa. Tapi disamping itu, jiwa anak juga
akan dilatih untuk tegar, karena saat menghadapi nara sumber dengan banyak
karakter dan watak, dia harus mampu mengembangkan pola komunikasi yang baik dan
benar, agar tujuan wawancara bisa dicapai.
5. Dia bisa miminal memimpin
dirinya sendiri, untuk tidak malas,
menghargai waktu dan mengembangkan pola komunikasi yang baik. Saat sang anak mampu membuatnya dirinya tegar
dan tegas, maka kepada teman dan lingkungannya akan terpola hubungan yang
saling membutuhkan dan menguntungkan, bagi si anak dalam mencapai tujuannya.
6 .Dia akan menjadi anak yang
manis dan berkarakter dan punya sikap dan sifat terpuji. Dia juga akan lebih
menghargai orang lain, termasuk guru dan orang tuanya, karena jiwa dan sikap
sifatnya terus digembleng saat menghadapi aneka sifat dan watak dan situasi
kondisi nara sumber.
Itulah sebagian kecil yang saya
ingat, terkait dengan manfaat dan guna dari ekskul jurnalistik di sebuah
sekolah. Yang pasti, sebuah sekolah yang mempunyai ekskul jurnalistik dan mampu
mengembangkannya dengan baik dan benar, yang kemudian dilengkapi dengan sebuah
media internal sebagai wadah berlatihnya. Maka, bersiap-siaplah untuk menjadi
sekolah yang diperhatikan, sekolah yang menjadi bahan perbincangan sekolah
lainnya, karena prestasi anak didiknya yang makin banyak. Bersiap-siaplah
menjadi sekolah yang dinamis dan penuh inovasi dan improvisasi atas tenaga
pedidik dan anak didiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar