Cari Blog Ini

Kamis, 12 Oktober 2017

Belajar mudah ilmu jurnalistik pelajar





KAIDAH SEDERHANA MENULIS DI MEDIA MASA
Kuasai Prinsip 5W + 1H

a.
Who (Siapa)
      Dalam sebuah berita, prinsip ini menjadi sangat penting sekali, dan bahkan menjadi daya tarik yang sangat menjual. Untuk koran gossip, hiburan dan koran kuning, sisi who ini bahkan di eksploitasi hingga masuk ke dalam wilayah yang sangat privat sekali. Kalau perlu deretan foto ekslusif disertakan dengan judul yang bombas dan menghakimi.
· Disini berlaku prinsip :
      “Orang  besar untuk kasus kecil, atau orang kecil untuk kasus besar,”
     
Contoh :
1.
Manohara, siapa yang tahu dia sebenarnya ?
Namun, karena kasusnya berhubungan dengan orang besar, macam Putra Mahkota Kelantan, jadilah beritanya di ekspose besar besaran. Di blow up, dan bahkan dijadikan sinetron, yang semuanya diatasnamakan uang dan fulus.
2.
Siapa yang kenal nama Bahridin, penduduk dusun Mlela, Desa Pasuruan, Kecamatan Binangun, Cilacap ?  Dia bukan siapa siapa. Tapi, saat penyidikan atas kasus bom Mega Kuningan mengindikasikan keterlibatan dia, maka semua media di tanah air itu memajang namanya. Wartawan berlomba lomba mewawancarai keluarga dan tetangga lingkungannya. 
      “Orang kecil untuk kasus besar.”  Itulah Bahridin sekarang

b.
What (Apa)

Apa isi beritanya ?
Banyak kata Tanya yang harus dijawab, sebelum redaksi memutuskan akan mengangkat suatu kejadian menjadi berita di kolom medianya.
Diantaranya :
- Apakah punya news value yangsepadan dan menyangkut kepentingan orang
   banyak   kalau harus diturunkan dalam sebuah berita ?
- Adakah kepentingan masyarakat / kelompok/  institusi yang terganggu, karena
   isi beritanya ?
- Apakah isi beritanya membawa manfa
  at dan pembelajaran bagi masyarakat ?
- Apakah isi beritanya sudah balans, sudah di kroscekkan, di konfirmasikan  
   dengan pihak lain yang terkait dengan kejadian yang akan di ekspose ?
Selain banyak kalimat tanya yang butuh jawaban di atas, kita perlu sangat hati hati, saat berhadapan dengan sebuah berita yang :

A.
Kita ragukan sumbernya, hanya berdasar rumor, gossip, 'katanya' , cerita burung dan sejenisnya.

Contoh :
      Sang Kapten yang saat ini terpilih sebagai Presiden, kabarnya sering berkunjung dan meminta restu pada seorang paranormal di Gunung Kemukus.

- Berita ini akan jadi berita yang menghebohkan kalau diturunkan, dan bisa 
dipastikan akan membuat media laris manis. Apalagi bila dibumbui dengan sisi sisi mistis dan magisnya.

- Tapi jangan lupa, ada dua konsekuensi yang bisa terjadi :  

a.
Sang kapten dan atau orang orangnya akan melayangkan somasi atau bahkan menuntut karena pencemaran nama baik.
b.
Atau ,  sang Kapten dan tim nya mendiamkan berita itu muncul, dan bahkan memberi tambahan statement yang lebih dalam, agar makin menambah wibawa dan angker diri nya.

B.
Apa beritanya  hanya mendasarkan pada pendapat, atau asumsi seseorang, dan kita tahu seseorang itu sedang bermasalah dengan seseorang / kelompok / institusi

Contoh :
Seorang pejabat di lingkungan Kota Semarang, yang selama ini diketahui menjadi  salah seorang yang masuk ke jaringan barisan sakit hati, mengeluarkan statement tentang tidak tepat sasarannya penyaluran beasiswa, yang merupakan kebijakan walikota.

1.
Atas statement itu, kita sebaiknya  meminta data tertulis yang akurat dan valid, agar tidak salah menurunkan data. Data dan fakta itu harus di  kroscek, konformasikan ke pejabat terkait.
2.
Itu harus dilakukan, agar kita dan atau media kita, tidak menjadi alat perang bagi dua kepentingan yang saling bertolak belakang itu.
3.
Menghindari somasi atau tuntutan dari salah satu pihak, kalau ternyata data dan fakta yang ada tidak akurat dan hanya merupakan  luapan rasa tidak senang personal saja.

C.
Obyek atau masalah yang akan diungkap hanya merupakan release dari seseorang/ kelompok / institusi.

- Harus dilakukan wawancara lebih detail terhadap 'apa' isi beritanya, agar tidak 
   salah menurunkan berita yang ternyata  hanya merupakan pembelaan tanpa
   dasar, dan menyudutkan/ menghakimi atau  bahkan memvonis pihak lain.

- Jangan sampai media kita hanya menjadi corong  dari seeorang / kelompok/
   institusi , kecuali sudah ada kesepakatan berdasar relationship yang sangat 
   mendalam antara manajemen dengan pengirim release.

c.
When ( Kapan)

- Apakah beritanya merupakan hot news, berita hangat yang barusan   terjadi,  
seperti kecelakaan atau peledakan bom atau berita pengembangan  atas suatu kejadian yang berlandaskan interview dengan nara sumber lain.

· Saat kita mendapatkan hot news, straight news, atau apapun istilahnya, yang rentang waktu kejadiannya hanya dalam hitungan menit, jam dan belum melampui masa deadline, menjadi kewajiban semua wartawan untuk menulis saat itu juga. Kalau kejadiannya pagi atau siang, sementara deadline malam, maka ada waktu yang cukup untuk melakukan wawancara dengan narasumber terkait agar beritanya makin lengkap.

Contoh :
LIMA TEWAS di LINTASAN KA TANPA PALANG PINTU
      Karang Ayu, 15/7 (Ekspresi) – Lintasan kereta api tanpa   palang pintu di Karang ayu, kembali meminta korban. Satu keluarga, yang terdiri dari ayah, ibu dan 3 anak, tewas seketika di tempat kejadian , di tabrak kereta Argo Bromo, pukul 8.15 tadi pagi.

· Kecepatan menurunkan berita, terkadang menjadi nilai lebih sebuah lembaga pemberitaan, khususnya di stasiun radio dan Televisi. Unsur When ini, terkadang dimunculkan dalam hitungan menit, apabila nilai beritanya demikian tinggi dan menggemparkan. Tidak jarang, sebuah stasiun TV menghilangkan semua program acara yang telah tersusun , dan menggantinya dengan siaran langsung kejadian yang menggemparkan itu.

Contoh :
Kasus bom mega kuningan kemarin. Banyak stasiun TV yang mengadakan siaran langsung dan terus mengikuti perkembangannya bahkan dalam hitungan menit.
-  Menjadi tidak bisa dimaafkan, apabila karena kemalasan wartawan, berita hangat yang seharusnya dituliskan hari itu juga, tertunda keesokan harinya. Dan kita sama sekali tidak berharap ada wartawan yang seperti itu.

d.
Why (Mengapa)
Unsur mengapa, selalu menjadi alasan permisif, yang menarik saat seorang redaksi harus menurunkan atau men 'drop'  kan sebuah berita yang ditulis seorang wartawan.Bisa saja redaksi menolak berita wartawan, karena tidak jelas unsure Why nya, atau sebaliknya menurunkan sebuah berita  menjadi headline, karena unsur why nya sangat tinggi nilai beritanya.

Contoh :
Kenapa dua hotel bintang lima di mega kuningan Jakarta, meledak  ?
Ternyata ada  orang yang melakukan bom bunuh diri.

- Unsur why disini menjadi sangat menarik, sehingga oleh semua wartawan, dikembangkan dengan melakukan penelusuran, investigasi hingga ke detailnya, sehingga akhirnya diketahui latar belakang mengapa para pelaku sampai berani melakukan aksi bunuh diri seperti itu.

e.
Where (di mana)
Di mana kejadiannya ? 
Unsur berita ini selalu penting dan wajib ditulis, karena menjadi satu kesatuan dengan unsure yang terdahulu. Detail penyebutan tempat, harus disebutkan apabila nama tempat kejadiannya belum dikenal, dengan menyebutkan nama kota atau provinsinya.

Contoh:
Bom bunuh diri yang menyebabkan 9 orang tewas dan meluluhlantakkan dua hotel bintang lima itu, kejadiannya di mana ?
Ternyata di Mega Kuningan, Jakarta.
( detail penulisan, di bagian Pedoman Umum Penulisan Berita. )

f.   
How (Bagaimana)
Untuk kejadian bom mega kuningan , bagai
mana mungkin sebuah hotel bertaraf interna
sional dengan penjagaan super ketat, bisa di bom ? Ternyata, setelah dilakukan penyidikan oleh aparat kepolisian, pelaku yang kemungki
nan menjadi otak peledakan, sudah beberapa  menginap di hotel tersebut.
Unsur how, selalu menjadi tantangan bagi banyak wartawan untuk penulisannya. Sehingga tidak jarang, aneka cara dilakukan agar bisa sesegera mungkin mengungkap modus operandi dan cara bagaimana para pelaku merencanakan dan melakukan aksi peledakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar